Follow This Blog revealed!
Welcome to my blog!Suka blog ini? yuk langsung follow, caranya dengan meng-klik bulatan keempat yang ada disamping...:-). enjoy!


profile



affies



archive



follow


link
" Sometimes the heart sees what is invisible to the eyes. "

[Sinopsis] Tokyo Shoujo Part 2
Sunday | 0 comments
 
Begitu terhubung dengan semangat Tokijiro memberitahu kalau Miho benar, Titanic benar-benar tenggelam.”Kau benar-benar seseorang dari 100 tahun kemudian”sambungnya.
“Kau akhirnya percaya” ujar Miho senang.
“Benar-benar luar biasa, tapi itu memang benar “
“Mm, hanya dapat disebut keajaiban”
“Tapi mengapa kita berdua?”
Miho yang tak bisa menjawab. Miho bertanya apakah Tokijiro melihat bulan disana. Tokijiro mengiyakan. Miho lalu memberitahunya bahwa komunikasi hanya dapat terhubung saat ada bulan. Percakapan mereka sampai pada Novelis terkenal Natsume Souseki Sensei. Novelis yang ternyata sama-sama mereka kagumi. Miho kagum mengetahui Tokijiro adalah murid Natsume sekaligus mahasiswa di Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang universitas tokyo). Mereka menemukan kesamaan dalam mimpi mereka untuk menjadi novelis. Tokijirou berkata ayahnya melarang menulis novel karena ingin dia meneruskan perusahaannya. namun dia yakin, jika terus berusaha dan dapat menghasilkan sesuatu yang membanggakan, dia percaya akan mendapatkan pengakuan ayahnya.
“Ah, aku belum memperkenalkan diri!” Miho teringat.
”Oh, benar.”
“Namaku Fujisaki Miho”
“Miho..”
“Ya. artinya berjalan di masa depan”
“Miho - berjalan di masa depan - nama yang bagus”puji Tokijiro
“Terima kasih”
Lalu Tokijiro mengetahui Miho sebaya dengan adiknya dan dia kagum karena Miho ingin melanjutkan ke universitas, berbeda dengan adiknya Akiko. Miho merendah dan menjelaskan jika di masanya siapa saja yang mau, bisa pergi ke universitas. Hal itu membuat Tokijiro merasa tahun 2008, sepertinya waktu yang luar biasa.
Tokijiro lalu bertanya apa Miho mengetahui sesuatu mengenai dirinya. Apakah dia menjadi seorang novelis yang baik seperti Natsume Sensei 100 tahun kemudian? Sambil menceritakan tentang naskahnya yang ditolak penerbit, dia melanjutkan “Jadi ... bahkan jika itu hanya sebuah cerita pendek, Jika kau bisa menemukan hanya satu potong, Jika karyaku masih dapat ditemukan setelah 100 tahun ...Hal ini tentu akan memberiku percaya diri”
“Aku mengerti bagaimana perasaan mu” ujar Miho yang ingin menjadi seorang novelis tapi tidak memiliki kepercayaan diri untuk mewujudkan impiannya. Saat itu hubungan telepon mulai terganggu dan sinar bulan di langit mulai ditutupi awan pertanda komunikasi akan segera terputus. Sebelum bener-benar terputus, Miho mengajarinya untuk menekan tombol mana pada ponsel untuk menghemat baterai karena Tokijirou tentu saja tidak memiliki charger untuk ponsel tersebut. Dan berjanji akan mencari tahu karya Tokijirou.
Keesokan harinya, di perpustakaan sekolah Miho mencoba mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan Tokijiro namun tak berhasil. Miho putus asa. Tiba-tiba ia melihat foto Shiomi Atsushi pada sebuah buku. Miho langsung mengenali kalau orang itu calon ayah tirinya.Miho segera menemui Atsushi.
”Aku tidak berpikir kau akan menghubungiku dulu. Terima kasih”ujar Atsushi nampak senang dengan kedatangan Miho.“Tolong jangan salah paham, aku masih tidak setuju denganmu menikahi ibuku” Miho menegaskan.
“Aku akan melakukan upaya. Kau akan menyetujui kami suatu hari.”ujar Atsushi paham dan menanyakan keperluan Miho menemuinya.Miho berkata dia menemukan buku karangan Atsushi di perpustakaan dan di antara murid-murid Natsume Souseki pasti ada seseorang bernama Miyata Tokijirou. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan orang ini. Atsushi mencoba mencari di file di laptopnya. Namun tak menemukan nama Tokijorou di antara daftar murid Natsume.
“Apakah semua murid terdaftar?” tanya Miho ingin tahu.
“Selain orang yang terdaftar di sini, Souseki memiliki banyak murid-murid lainnya. Tapi kebanyakan dari mereka tinggal tidak diketahui dan tidak pernah dipublikasikan apa-apa.”jelas Atsushi. Dia bertanya mengapa Miho ingin tahu tentang hal Tokijirou Miyata. Miho berbohong, berkata teman dari temannya tahu Miyata.
Atsushi percaya saja “Aku paham. Tapi Anehnya, ia tampaknya tidak menjadi penulis” Mereka sama-sama terdiam. Atsushi mengalihkan pembicaraan “Bagaimana kalau makan malam dengan ibumu dan aku, kita bertiga...? beri aku kesempatan” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Miho sudah beranjak pergi. 
 
Sementara itu, Tokijiro berada di penerbitan berharap naskahnya diterima kali ini. Namun sayangnya, Tokijiro lagi-lagi harus menelan kekecewaaan. Pria tua di penerbitan berkata kalau karyanya kali ini bahkan tidak bisa disebut sastra. Pria itu berkata unsur mutlak dalam sastra adalah cerita bergerak. Sebuah panggilan telepon dari orang tak dikenal dari masa depan , tidak peduli berapa banyak tinta yang dihabiskan Tokijirou, jika dia tidak menggambarkan karakter kritis secara rinci, dia tidak mampu menggerakkan orang. Pria itu menyarankannya menulis sebuah novel yang milik sendiri.
Tokijiro menatap kertas yang masih kosong di hadapannya dengan muram. Saat itu Akiko masuk ke kamar kakaknya dan menyerahkan surat dari ayah mereka. Tokijiro membuka dan membaca surat itu, Akiko ikut membaca,” Setiap orang memiliki sesuatu dalam hidup yang ia lakukan. Jika sastra adalah apa yang kau lakukan, Aku tidak akan meneleponmu lagi. Aku bahkan akan berhenti berusaha untuk membiarkanmu mewarisi perusahaan. Namun, Aku harap kau bisa berhenti untuk memikirkan hal itu, hal yang harus kau lakukan dalam hidup. Sesuatu hanya kamu bisa lakukan, tapi bukan orang lain
Tokijiro yang masih diliputi perasaan kecewa meminta pendapat Akiko,”bagaimana menurutmu? Apakah kau pikir aku akan memiliki masa depan menjadi novelis? Apakah novel benar-benar apa yang harus ku capai?”
“Aku pikir kakak bisa melakukannya. Kakak pasti akan menulis sesuatu yang hebat seperti karya Natsume Souseki Sensei” Akiko mencoba menyemangati kakaknya.
“Akiko ...”Tokijiro nampak terharu.
“Kakak sering berkata, seseorang hanya bisa mewujudkan mimpinya dengan berusaha. Aku selalu mempercayai sebagai kebenaran. Biarkan aku membuangnya untukmu hari ini, kakak.”
Akiko meminta surat itu, bergumam meminta maaf pada sang ayah dan...memasukkan surat ke kotak sampah! Tokijiro terbelalak melihat apa yang baru dilakukan adiknya.
“Dengan cara ini kakak hanya dapat melanjutkan dan berusaha”jelas Akiko sambil tersenyum. Tokijiro ikut tersenyum dan berterima kasih.
Tokijirou menatap bulan yang bersinar terang. Dia bergegas menghidupkan ponsel sesuai petunjuk Miho sebelumnya. Di kamarnya Miho juga menatap bulan namun merasa sulit menghubungi Tokijiro karena dia belum menemukan karya Tokijiro di masa depan sesuai janjinya.“Awan, kumohon, terus tutupi bulan” Miho berharap.
Sementara Tokijiro gelisah di kamarnya ”mengapa dia belum meneleponku? Dia bisa menelepon dari sana, maka aku harus bisa meneleponnya juga. Telepon harus bekerja seperti ini. Biar ku coba. kumohon terhubung”
Miho menutup ponselnya. Dia harus mencari alasan. Namun ponselnya berbunyi. Miho tak menyangka Tokijiro bisa menghubunginya. Mau tak mau Miho menjawab ponselnya.
“Kau masih belum menghubungiku, jadi aku meneleponmu”ujar Tokijiro
“Kau menemukan cara untuk meneleponku”
“Aku hanya menekan tombol secara acak. Tidak, harus mengatakan itu tekadku. Karena Aku ingin berbicara kepadamu dari hati. Itulah mengapa tersambung”
Miho bertanya apakah sesuatu yang terjadi hari ini. Tokijiro menjawab tentang ayahnya. Tapi itu baik-baik saja sekarang. Tokijirou juga meminta Miho melupakan permintaannya tentang mencari tahu karyanya100 tahun kemudian.
“Hal ini menjadi tidak berarti ketika kita mengetahui masa depan. Kita termotivasi untuk melakukan usaha karena masa depan tidak diketahui. Oleh karena itu, tentang masa depanku, tidak peduli itu baik atau buruk, Tolong jangan bilang apa-apa dari sekarang”
“Baik. Aku tidak akan” Miho mengerti lalu memujinya untuk pertama kali. Tokijiro nampak senang. Dia selalu merasa Miho melihatnya, orang dari zaman Meiji-seorang pria kuno yang tidak tahu apa-apa.
Miho lalu mengajarinya menekan tombol bagaimana untuk dapat menghubunginya tanpa harus menekan tombol secara acak lagi. Saat itu Miho mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Miho menatap dari jendela dan terkejut melihat ibunya mencium Atsushi yang mengantarnya. Segera Miho memutuskan komunikasi dengan Tokijiro. Tokijiro kebingungan. Miho menemui ibunya dengan kesal berkata dia melihat kejadian tadi dan bilang Ayah mungkin melihat juga. Miho mengambil minuman di kulkas hendak ke kamarnya lagi. Ibunya menghampiri dan berusaha memberi pengertian ”Miho, Kau ingat ulang tahun pertamamu setelah ayahmu meninggal? Kau menangis mengatakan, "Aku tidak ingin merayakan ulang tahun tanpa ayah." Ibu belakang merasakan hal yang sama”
Miho menghentikan langkahnya dan terdiam sementara ibunya duduk dan melanjutkan sambil mengambil dan memandangi foto mereka bertiga, “Meski begitu, ulang tahun masih datang. Tanpa ayah, kita masih merayakan. Tentu saja, itu tidak sama seperti sebelumnya.Tapi ulang tahun masih berlalu. Tahun kemudian, dan tahun setelahnya, ulang tahun terus datang. Tanpa disadari,kita dapat merayakan ulang tahun yang sangat tenang. Tiba-tiba, suatu hari, ibu menyadari, mengejutkan diriku sendiri, ulang tahun tanpa ayah bisa begitu tenang. Mustahil membayangkan saat itu. Mungkin ini karena ayah ingin kita melupakannya, berharap kita untuk tidak diikat olehnya. Orang hidup harus menghadapi masa depan, dan hidup. Ayah pasti ingin menyampaikan pikiran-pikiran itu kepada kita. Berjalan di masa depan, nama Miho.. Itu adalah ayahmu yang memberikannya. Jadi aku percaya ..”
“Perkataanmu, bukankah hanya beberapa alasan palsu untuk egois?”ujar Miho sinis dan bergegas ke kamarnya. Ibunya nampak sedih.
Dikamarnya Miho menangis. Ponselnya tiba-tiba berdering. Dari Tokijiro yang khawatir karena Miho tiba-tiba menutup telepon. Miho meminta maaf.

Tokijiro bertanya“Apakah kau menangis? Kau dapat memberitahuku jika tidak keberatan. Ketika kau merasa sedih, berbicara dengan seseorang dan kau akan merasa lebih baik.”
Akhirnya Miho pun curhat “Aku tahu bahwa aku kekanak-kanakan. Aku tahu aku selalu mengatakan kata-kata yang disengaja. Ibuku akan menikah lagi. Setelah ayahku meninggal, Ibuku dan aku bergantung satu sama lain. Tapi dia tiba-tiba mengatakan kepadaku akan menikah lagi dengan orang lain. Hal ini seperti ... ibu akan ke suatu tempat yang jauh dan menjadi seseorang yang ku tidak tahu ...Aku merasa sangat kesepian”
“Aku mengerti bagaimana perasaanmu” ujar Tokijiro yang sedari tadi mendengarkan curhatannya Miho dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”
“Ibuku meninggal dunia ketika aku berusia 15 tahun. Kemudian ayah menikahi selirnya, membiarkan dia ke dalam keluarga, sekarang mereka tinggal di tempat lain. Pada awalnya, aku menentang juga, Kemudian aku menyadari, bahkan jika mereka orang tua kita, sebagai anak mereka kita tidak harus egois. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri juga.Apakah kau menangkap apa yang ku maksud? aku tidak dapat mengekspresikan diri dengan sangat baik ...”
“Ya. Terima kasih. Kau memberiku banyak keberanian”
Mereka yang menjadi lebih dekat, mengatur untuk 'nge-date' bersama di Ginza pada hari bulan bersinar di tengah hari-(kadang-kadang bulan juga keluar siang hari..


Bersambung....
next part dijamin bakal lebih seru :)

« Newer
Older »